GAPKI Riau Sambut Positif Pengunaan Biodiesel

Pekanbaru, 10/9 (antarariau.com) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Riau menyambut positif empat paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah khususnya dalam mendongkrak penggunaan energi terbarukan biodiesel.
         
"Bila selama ini dalam satu liter solar dicampur biodiesel lima persen, maka dengan adanya paket kebijakan ekonomi ditambah menjadi 10 persen dan membuat mesin lebih bagus," ujar Sekretaris Gapki Riau, Rafmen di Pekanbaru, Selasa.
         
Dalam beberapa tahun terakhir, lanjutnya, penggunaan biodiesel terbatas hanya untuk kebutuhan perusahaan sendiri seperti mesin-mesin pabrik atau pengganti bahan bakar jenis solar dengan harga beli industri.
         
Sejumlah pabrik biodiesel di Riau telah berdiri, seperti yang ada di Kota Dumai dan menjadi salah satu anggota Gapki Riau, kemudian pabrik biodiesel milik Asian Agri Group.
         
Meski demikian, penggunaan biodiesel untuk dalam negeri yang masih terbatas karena dilanda sejumlah masalah di antaranya harga jual solar bersubsidi tidak sesuai dengan harga minyak sawit mentah (CPO).
         
"Untuk saat ini belum bernilai ekonomis. Contohnya dengan harga jual CPO Rp7.000 per kilo gram, sementara solar berubsidi hanya sebesar Rp5.500 per liter. Jika tidak ada insentif yang diberikan pemerintah, maka akan menjadi timpang," ucapnya.
         
Kalau dijual dalam bentuk CPO untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, maka bisa didapatkan dengan harga yang berkisar antara Rp7.000 sampai Rp9.000 perkilogram.
         
Untuk ekspor tergantung pada permintaan negara tujuan, misalnya dari China yang saat ini menurun permintaan karena dampak krisis global, sedangkan stok CPO dalam negeri cukup banyak.
         
"Saya pikir harus dilihat dari 'margin-nya', kalau dilihat dari situ sudah bisa dipastikan biodiesel tidak menguntungkan. Kecuali ada insentif pemerintah bagi perusahaan yang mau lebih aktif di industri hilir kelapa sawit," kata Rafmen.