Pengamat: Varietas Unggul Transgenik Mampu Bersaing

Pekanbaru, (antarariau) - Pengamat pertanian dari Sumatera Barat Rasmi R,SSt. MSi mengatakan bahwa varietas memiliki keunggulan yang bisa bersaing pada lingkungannya yang baru.

         "Sebab varietas unggul transgenik merupakan teknologi rekayasa genetika untuk menghasilkan varietas  baru yang unggul dari sebelumnya, baik itu pertumbuhannya, penampilannya fisiknya, rasa,aromanya, kandungan gizi dan lainnya," katanya, pada ANTARA Pekanbaru, Minggu.

         Ia mengatakan itu sehubungan dengan munculnya persangkaan pro dna kontra terhadap teknologi transgenik khususnya berkaitan dengan kapas transgenik di Sulawesi Selatan yang seharusnya tidak menjadi polemik karena hal ini sudah lumrah terjadi  dalam proses adopsi inovasi.

        Menurut dia, teknologi  tersebut bukan  hanya untuk kapas saja, akan tetapi bisa diterapkan pada ternak, ikan, kedelai, jagung dan lainnya.

         Jika dilihat dari segi ilmu penyuluhan, katanya,  proses adopsi transgenik selalu ada tahapannya, pertama petani hanya sekedar tahu dari apa yang didengar dan dilihatnya, kemudian mulai bertanya-tanya kepada sumber yang berkompeten sambil menganalisanya.            
    "Untuk selanjutnya mereka diyakini memutuskan untuk mencoba dan jika berhasil mereka akan memutuskan untuk mengadopsi inovasi tersebut pada lahan pertaniannya," katanya.

         Sedangkan rentang waktu tahap awal uji coba transgenik itu sampai adopsi bisa panjang kalau penyebaran informasi dan tahapannya kurang di dukung oleh pemerintah.

         Akan tetapi,  juga bisa diperpendek sesuai dengan yang direncanakan melalui penyuluhan yang intensif seperti program BIMAS dengan  padi Varitas Unggul Tahan Wereng (VUTW).   "Ketika itu, untuk kasus VUTW tetap menimbulkan gejolak namun zaman tidak semudah orang kini berunjuk rasa," katanya.

         Sebaliknya, varitas itu terpaksa ditanam petani, karena bagi yang  tidak menanam VUTW akan hancur diserang wereng, akhirnya semua menanam varietas unggul tersebut tanpa mau kembali menanam varietas yang lama.

         "Lalu apa bedanya dengan kasus kapas transgenik produk Mosanto yang di beri nama BT. 5690 B di Sulawesi Selatan ?" katanya bedanya secara teknis adalah kapas yang disebut BT itu tahan dari serangan hama karena daunnya memiliki racun sendiri, dan mungkin ini permasalahannya.

         Kalau dilihat dari bahasa penyuluhan tanaman yang memiliki racun pasti sudah dianggap berbahaya, namun kalau deskripsinya dibunyikan tahan terhadap hama tertentu mungkin reaksinya akan berkurang.

         "Mengapa bisa begitu,  sebab secara teknis bisa saja peneliti memasukan DNA suatu tanaman yang daunnya mengandung racun, lalu diperbanyak secara invitro," katanya dan setelah berbuah dan berproduksi diuji kelayakannya secara menyeluruh dan itu hasilnya.

         Sementara itu, sasaran yang menerapkan teknologi ini antara lain penetrap dini yaitu orang yang secara dini menerapkan teknologi tersebut. Kelompok ini adalah orang-orang profesional dibidangnya dan jumlahnya tidak banyak seperti peneliti dan inovator.

         Yang kedua adalah penetrap awal, biasanya mereka dapat informasi dari peneliti atau inovator, biasanya usahanya cukup mapan. Yang ketiga adalah penerap akhir yakni mereka menerapkan teknologi yang hampir ditinggalkan orang akibatnya usahanya berbiaya tinggi atau tidak efesien.

         "Yang terakhir adalah kelompok sinis, yakni yang suka cuap-cuap dan mencari alasan agar orang tidak menerima suatu teknologi yang ditawarkan," katanya.