Pemanasan Global, bom waktu bagi kelalaian manusia ?

Pemanasan global ? Masa bodoh bagi mereka yang selalu "cengangas-cengingis" ketika hendak dibekali bagaimana upaya meminimalisasi dampaknya.
       
Pemanasan global ? "Ngak begitu ngaruh tuh," bagi kalangan berkepentingan yang selalu saja "menggerogoti" lahan hutan nusantara hingga terus saja menciut.
       
Pemanasan global ? Mungkin baru akan menyadarkan manusia yang lalai ketika dampaknya, berupa bencana melanda kehidupannya.
       
Sebaiknya dihayati nasehat orang tua yang menyatakan, "jangan menyesal dan disesalkan, ketika sebuah keburukan (berupa bencana) menghampiri mu yang lalai."
       
Tidak ngerikah 'anda' dengan ungkapan Dr Niken Sakuntaladewi yang menyatakan bahwa pemanasan global kini semakin mengkhawatirkan.
     
Wanita yang menjabat sebagai Senior Scientist Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan, Kementrian Kehutanan RI ini menyatakan bahwa pemanasan global telah menimbulkan bencana di berbagai negara.
      
Dr Niken Sakuntaladewi dalam seminarnya di acara "Lokakarya Wartawan Peliputan Perubahan Iklim" di Pekanbaru, Riau, Selasa, mengumpamakan persoalan pemanasan global sebagai "bola api" yang terus memutarkan bencana bagi kehidupan manusia.
      
Salah satunya yang paling dirasakan sejak beberapa tahun terakhir menurut Niken adalah efek rumah kaca penyebab panas yang begitu menggerahkan.
     
Terkait rumah kaca, para ahli juga sudah setuju bahwa hal itu disebabkan oleh bertambahnya jumlah gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfir yang menyebabkan energi panas yang seharusnya dilepas ke luar atmosfir bumi dipantulkan kembali ke permukaan dan menyebabkan temperatur permukaan bumi menjadi lebih panas.
       
Kondisi efek rumah kaca, secara sederhana dapat diumpamakan dengan kondisi 'anda' ketika sedang berada di dalam mobil.
       
Namun mobil tersebut telah lama dihangatkan oleh sinaran matahari tanpa ada fungsi mesin pendingin dan, ketika itu 'anda' berada di dalamnya. Tidak percaya.
       
Dr Niken mencontohkan kabar terkait meninggalnya seorang bayi yang ditinggal orang tuanya di dalam mobil dengan tanpa menghidupkan mesin pendingin.
      
"Saya ingat betul peristiwa ini terjadi di Amerika. Hal itu disebabkan suhu udara yang begitu panas di dalam mobil tersebut. Nah, seperti inilah efek rumah kaca yang dimaksud," katanya.
       
Menurutnya pula, bahwa efek rumah kaca adalah dampak dari pemanasan global dan tingginya frekwensi aktivitas manusia di permukaan bumi.
     
Lantas, bagaimana jika suatu negara termasuk Indonesia merasakan  kebingungan karena sejumlah pulau negara tersebut hilang secara bertahap.
     
Dr Niken menyatakan hal itu disebabkan terus meningkatnya permukaan air laut, dimana gunung es di kutub utara terus mencair akibat pemanasan global.

Pangan dan Ekosistem
      Apakah pemanasan global juga menganggu sektor pangan dan ekosistem ? Dr Niken menjawab 'anda' benar.
      
Menurutnya pemanasan global yang terjadi di berbagai negara tidak terkecuali telah memberi dampak negatif terhadap ragam produk pangan dan air serta ekosistem.
       
"Yang jelas pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan iklim secara tak teratur," katanya.
       
Seperti kondisi cuaca ekstrem seperti panas yang berlebih hingga meningkat dua derajat celsius dan hujan yang turun secara tak teratur. Tidak percaya...!
     
Riau dilanda cuaca ekstrem pada awal 2012 lalu. Suhu udara di wilayah itu lebih panas dari biasanya. Dalam tiga hari terakhir, suhu di kawasan itu sudah mencapai 36 derajat Celcius. Panasnya suhu udara di Riau ini di abnormal.
    
Dikemukakan Aristya Ardhitama, Staf Analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, suhu udara normal di Riau dalam kisaran 33,4 derajat Celcius.
     
Namun ketikat itu, suhu udara di sebagian Riau mencapai 36 derajat Celsius dan bahkan bertahan hingga beberapa hari terakhir. Masih mau bukti lagi...!
     
Banjir bandang yang terjadi kabupaten Kampar, Riau, pada akhir tahun 2011 menyebabkan dua warga tewas. Banjir tersebut merendam 307 rumah di 11 desa pada Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.
      
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis bahwa akibat bencana itu, sebanyak 307 rumah terendam, 21 rumah hanyut,  37 hektar kebun karet rusak, 70,39 ton karet hanyut dan 55 hektar kebun kelapa sawit rusak.
     
"Kerugian material lainnya, empat jembatan yang dijadikan akses warga rusak dan 53 perahu hanyut," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo.
     
Maraknya pembalakan liar di Kampar sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir bandang tersebut. Meskipun pembalakan liar jauh lebih menurun dari tahun-tahun sebelumnya, tapi pembalakan liar tidak berhenti sekaligus di Kampar.
     
Kemudian seperti dikatakan Dr Noken, bahwa ditahun 2010 hampir sepanjang waktu nyaris tidak ada panas dan bahka hampir setiap harinya selalu saja terjadi hujan.
     
Apakah ini berdampak baik ? Dr Niken menyatakan " tidak." Hal itu menurut dia dikarenakan banyak petani gagal panen karena banjir merendam lahan pertanian mereka, dan banjir juga berpotensi memutuskan jalur-jalur perekonomian rakyat.
     
Kemudian kata Niken, pemanasan global juga berpotensi menimbulkan masalah bagi kesehatan manusia. Contohnya, demikian Niken, hal tersebut terjadi di Papua dimana ragam penyakit terutama malaria kian mewabah di daerah ini.

Terus Meningkat
     Masih kata Dr Niken yang kembali menyatakan bahwa bencana iklim cenderung meningkat bahkan drastis.
     "Seperti di Yogyakarta, tempat saya bermukim sebelumnya, sangat jarang yang namanya puting beliung, namun sejak beberapa tahun ini selalu terjadi," katanya.
      
Niken juga menguraikan prosentase perubahan tutupan lahan juga terus saja meningkat.
      
Apakah hal itu juga mempengaruhi pemanasan global ?
       "Tercatat sejak tahun 2000 hingga 2010, menunjukkan bahwa tutupan lahan yang berubah menjadi kawasan perkotaan begitu signifikan meningkat."
      
Akibatnya, maka berdampak pada perubahan iklim yang makin hari semakin mengerihkan dan hal ini disebabkan oleh kerusakan lingkungan atau hutan yang begitu besar.
       
Lingkungan yang kurang baik maka tidak lama kemudian biasanya akan berdampak pada masyarakat sekitar.
      
Perubahan iklim dan dampaknya masih akan berlangsung lama. Mengapa ?
      
Hal itu menurut Dr Niken disebabkan terlalu banyaknya emisi C02 terkosentrasi di atmosfir. Emisi C02 yang dikeluarkan manusia terus meningkat
     
Kemudian belum banyaknya tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya. Dan, stabilitasi iklim memerlukan waktu yang cukup lama.
     
Mampukah...?. Semua tergantung lagi dari "roda-roda gila" yang saat ini terus berputar tak tentu arah. Jangan biarkan pemanasan global menjadi "bom waktu" yang sewaktu-waktu akan menimbulkan ledakan dahsyat hingga mendatangkan kesengsaraan umat manusia. Termasuk 'anda'...!
***3***