Kearifan Lokal Tekan Laju Kerusakan Hutan Riau

Lingkungan

Pekanbaru, (antaraariau) - Badan Lingkungan Hidup  Provinsi Riau kini terus menggencarkan upaya-upaya perkuatan kearifan lokal seperti Hutan Adat Rumbio, sebuah tradisi turun temurun masyarakat kenagarian dalam menyelamatkan hutan.

"Upaya memperkuatan kearifan lokal tersebut diperlukan terkait hutan konservasi daerah itu kini mengalami kerusakan, padahal Pemerintah terlibat langsung dalam menjaganya," kata Kepala Sub Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati Muchsin di Pekanbaru, Jumat.

Menurut dia dalam UU Lingkungan Hidup No 32 diatur bahwa adanya peran masyarakat adat Rumbio suatu kenagarian pada beberapa desa di Kabupaten Kampar, --berjarak setengah jam dari pusat Kota Pekanbaru--dengan luas hutan yang dijaga mencapai 400 hektare.

Hutan tersebut merupakan hutan adat yang dilindungi oleh masyarakat setempat secara turun temurun karena kegiatan tersebut sudah merupakan tradisi sejak nenek moyang mereka.

"Kegiatan tersebut digerakkan oleh Yayasan Pelopor, sementara itu keberadaan hutan adat tersebut sudah ada sejak zaman kolonial Belanda," katanya.

Atas jasa untuk menggerakkan kearifan lokal itu, maka tahun 2008 Yayasan Pelopor diberi penghargaan lingkungan hidup atas jasanya hingga tahun 2011 yayasan tersebut diusulkan ke KLH untuk mendapatkan Kalpataru, dan diberi penghargaan oleh Presiden.

Sedangkan penghargaan tingkat provinsi adalah Setya Lestari Bumi yang diberikan untuk anggota dan kelompok masyarakat pada tingkat provinsi.

Untuk masyarakat Adat Rumbio, termasuk dalam kategori penyelamatan lingkungan dan perintis lingkungan.

Namun demikian program pembinaan lingkungan terus dilakukan sampai tahun 2012 ini tercatat sudah sekitar 10 kelompok masyarakat yang mendapatkan penghargaan Kalpataru dari tahun 1984.

"Program kearifan lokal perlu terus digencarkan, sebagai bagian dari upaya-upaya lainnya dalam menekan tingkat kerusakan hutan di daerah itu," katanya.

related post