Tenas Effendy: PON Jangan Dipolitisir

Pekanbaru, (antarariau) - Budayawan yang juga Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Tenas Effendy meminta agar jangan ada pihak yang mempolitisasi pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Provinsi Riau yang bertujuan agar perhelatan itu diundur dari jadwal.

"Jangan PON dijadikan alat politik untuk menggagalkan PON," kata Tenas pada peringatan 42 Tahun LAMR di Balai Adat Melayu Riau, Pekanbaru, Rabu.

Tenas Effendy mengatakan hal itu terkait kekisruhan yang terjadi beberapa bulan terakhir, mulai dari kasus korupsi proyek PON hingga pro-kontra antara Pemprov Riau dan DPRD mengenai pembangunan sarana olahraga boling dan biliar di komplek budaya Bandar Serai Raja Ali Haji, Pekanbaru.

"Tolonglah selesaikan masalah dengan sebaik-baiknya tapi jangan sampai menggagalkan PON di Riau," katanya.

Menurut dia, seluruh masyarakat Riau tetap menginginkan agar PON XVIII tetap dilaksanakan sesuai jadwal pada September 2012. Sebab, pelaksanaan iven nasional itu merupakan kehormatan bagi daerah penyelenggara dan diyakini banyak membawa manfaat bagi masyarakat.

"Semua pihak harus berusaha dengan keras agar PON dilaksanakan tepat pada waktunya," kata Tenas.

Gubernur Riau HM Rusli Zainal dalam pidatonya mengatakan kepercayaan kepada Riau sebagai tuan rumah PON XVIII akan tercatat dalam tinta emas sejarah. Ia mengaku optimis bahwa PON akan bisa tetap digelar sesuai dengan target, karena itu butuh kepercayaan dan dukungan dari semua pihak.

Rusli mengaku prihatin melihat berbagai kepentingan politik yang menggerakan aksi unjuk rasa mahasiswa untuk menggagalkan PON di Riau. Bahkan, aksi unjuk rasa mahasiswa juga sempat berujung dengan tindakan pengrusakan tugu hitung mundur (countdown) PON di Pekanbaru beberapa waktu lalu.

"Saya sedih anak-anak kita terkikis adatnya denga melakukan tindakan anarkis, ada yang rusak tugu PON padahal tidak ada satu sen pun uang negara kita gunakan untuk itu. Itu dipicu kepentingan politik sehingga anak-anak kita jadi melakukan anarkis," kata Rusli Zainal.